Obat Kanker? : Interaksi Obat Dengan Reseptor


Pengertian Obat

 Keputusan Menteri Kesehatan RI
No.193/Kab/B.VII/71, dikatakan bahwa obat adalah suatu bahan atau paduan
bahan-bahan yang digunakan dalam menetapkan diagnosis, mencegah, mengurangkan,
menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, serta luka pada
manusia atau hewan.

Menurut
Ansel (1985), obat adalah zat yang digunakan untuk diagnosis, mengurangi rasa
sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau hewan.

Setiap
obat memiliki sifat khusus masing-masing agar dapat bekerja dengan baik. Sifat
fisik obat, dapat berupa benda padat pada temperatur kamar ataupun bentuk gas
namun dapat berbeda dalam penanganannya berkaitan dengan pH kompartemen tubuh
dan derajat ionisasi obat tersebut. Ukuran molekuler obat yang bervariasi dari
ukuran sangat besar (BM 59.050) sampai sangat kecil (BM 7) dapat mempengaruhi
proses difusi obat tersebut dalam kompartemen tubuh. Bentuk suatu molekul juga
harus sedemikian rupa sehingga dapat berikatan dengan reseptornya. Setiap obat
berinteraksi dengan reseptor berdasarkan kekuatan atau ikatan kimia. Selain
itu, desain obat yang rasional berarti mampu memperkirakan struktur molekular
yang tepat berdasarkan jenis reseptor biologisnya.

Ø
Penggolongan
Obat

1.   
Obat
Bebas

Obat
bebas termasuk obat yang relatif paling aman, dapat diperoleh tanpa resep
dokter, selain di apotik juga dapat diperoleh di warung-warung. Obat bebas
dalam kemasannya ditandai dengan lingkaran berwarna hijau. Contoh obat bebas
yaitu parasetamol, vitamin C, antasida, dan Obat Batuk Hitam (OBH).

2.   
Obat
Bebas Terbatas

Obat
golongan ini juga relatif aman selama pemakaiannya mengikuti aturan pakai yang
ada. Penandaan obat golongan ini adalah adanya lingkaran berwarna biru dan
tertera peringatan dengan tulisan:

P.
No. 1: Awas! Obat keras. Bacalah aturan pemakaiannya.

P.
No. 2: Awas! Obat keras. Hanya untuk bagian luar dari badan.

P.
No. 3: Awas! Obat keras. Tidak boleh ditelan.

P.
No. 4: Awas! Obat keras. Hanya untuk dibakar.

P.
No. 5: Awas! Obat keras. Obat wasir, jangan ditelan

Obat
bebas terbatas dapat diperoleh tanpa resep dokter di apotik, toko obat ataupun
di warung-warung. Contohnya obat anti mabuk (Antimo), obat flu kombinasi,
klotrimaleas (CTM).

3.   
Obat
Keras

Obat
keras (dulu disebut obat daftar G = gevaarlijk = berbahaya) yaitu obat
berkhasiat keras yang untuk memperolehnya harus dengan resep dokter, memakai
tanda lingkaran merah bergaris tepi hitam dengan tulisan huruf K di dalamnya.
Jika pemakai tidak memperhatikan dosis, aturan pakai, dan peringatan yang
diberikan, dapat menimbulkan efek berbahaya bahkan meracuni tubuh, memperparah
penyakit atau menyebabkan kematian. Contoh obat golongan keras yaitu antibiotik
(tetrasiklin, penisilin, dan sebagainya), serta obat-obatan yang mengandung
hormon (obat kencing manis, obat penenang, dan lain-lain).

4.   
Psikotropika

Psikotropika
adalah zat/obat yang dapat menurunkan aktivitas otak atau merangsang susunan
syaraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku, disertai dengan timbulnya
halusinasi (mengkhayal), ilusi, gangguan cara berpikir, perubahan alam perasaan
dan dapat menyebabkan ketergantungan serta mempunyai efek stimulasi
(merangsang) bagi para pemakainya. Jenis obat psikotropika yaitu shabu-shabu
dan ekstasi.

5.   
Narkotika

Narkotika
adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik
sintetis maupun semi sintetis yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu
bagi mereka yang menggunakan dengan memasukkannya ke dalam tubuh manusia.
Pengaruh tersebut berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat,
halusinasi atau timbulnya khayalan-khayalan yang menyebabkan efek
ketergantungan bagi pemakainya. Narkotika merupakan kelompok obat yang paling
berbahaya karena dapat menimbulkan addiksi (ketergantungan) dan toleransi. Obat
ini hanya dapat diperoleh dengan resep dokter.

Menurut
DR. Dr. Fachmi Idris, M.Kes, secara internasional obat hanya dibagi menjadi
menjadi 2 yaitu obat paten dan obat generik.

Ø 
Obat paten adalah obat yang baru ditemukan
berdasarkan riset dan memiliki masa paten yang tergantung dari jenis obatnya.
Menurut UU No. 14 Tahun 2001 masa berlaku paten di Indonesia adalah 20 tahun.
Selama 20 tahun itu, perusahaan farmasi tersebut memiliki hak eksklusif di
Indonesia untuk memproduksi obat yang dimaksud. Perusahaan lain tidak diperkenankan
untuk memproduksi dan memasarkan obat serupa kecuali jika memiliki perjanjian
khusus dengan pemilik paten.

Ø 
Obat generik. Setelah obat paten berhenti masa
patennya, obat paten kemudian disebut sebagai obat generik (generik= nama zat
berkhasiatnya). Obat generik dibagi lagi menjadi 2 yaitu generik berlogo dan
generik bermerek (branded generic). Obat generik berlogo yang lebih umum
disebut obat generik saja adalah obat yang menggunakan nama zat berkhasiatnya
dan mencantumkan logo perusahaan farmasi yang memproduksinya pada kemasan obat,
sedangkan obat generik bermerek yang lebih umum disebut obat bermerk adalah
obat yang diberi merek dagang oleh perusahaan farmasi yang memproduksinya.

Ø
Peran Obat

Obat
merupakan salah satu komponen yang tidak dapat tergantikan dalam pelayanan
kesehatan. Obat berbeda dengan komoditas perdagangan, karena selain merupakan
komoditas perdagangan, obat juga memiliki fungsi sosial. Obat berperan sangat
penting dalam pelayanan kesehatan karena penanganan dan pencegahan berbagai
penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat atau
farmakoterapi. Seperti yang telah dituliskan pada pengertian obat diatas, maka
peran obat secara umum adalah sebagai berikut:

1) Penetapan
diagnosa

2) Untuk
pencegahan penyakit

3) Menyembuhkan
penyakit

4) Memulihkan
(rehabilitasi) kesehatan

5) Mengubah fungsi
normal tubuh untuk tujuan tertentu

6) Peningkatan
kesehatan

7) Mengurangi rasa
sakit

Baca Juga  LATEST CANCER INFORMATION

Ø
Mekanisme
Kerja Obat

Efek
obat terjadi karena adanya interaksi fisiko-kimiawi antara obat atau metabolit
aktif dengan reseptor atau bagian tertentu dari tubuh. Obat tidak dapat
menimbulkan fungsi baru dalam jaringan tubuh atau organ, tetapi hanya dapat
menambah atau mempengaruhi fungsi dan proses fisiologi (Batubara, 2008).

Untuk
dapat mencapai tempat kerjanya, banyak proses yang harus dilalui obat. Proses
itu terdiri dari 3 fase, yaitu fase farmasetik, fase farmakokinetik, dan fase
farmakodinamik. Fase farmasetik merupakan fase yang dipengaruhi oleh cara
pembuatan obat, bentuk sediaan obat, dan zat tambahan yang digunakan (Batubara,
2008). Fase selanjutnya yaitu fase farmakokinetik, merupakan proses kerja obat
pada tubuh (Katzung, 2007). Suatu obat selain dipengaruhi oleh sifat fisika
kimia obat (zat aktif), juga dipengaruhi oleh sifat fisiologi tubuh, dan jalur
atau rute pemberian obat (Batubara, 2008). Menurut Katzung (2007), suatu obat
harus dapat mencapai tempat kerja yang diinginkan setelah masuk tubuh dengan
jalur yang terbaik. Dalam beberapa hal, obat dapat langsung diberikan pada
tempatnya bekerja, atau obat dapat diberikan melalui intravena maupun per oral.
Fase selanjutnya yaitu fase farmakodinamik. Proses ini merupakan pengaruh tubuh
pada obat (Katzung, 2007). Fase ini menjelaskan bagaimana obat berinteraksi
dengan reseptornya ataupun pengaruh obat terhadap fisiologi tubuh. Fase
farmakodinamik dipengaruhi oleh struktur kimia obat, jumlah obat yang sampai
pada reseptor, dan afinitas obat terhadap reseptor dan sifat ikatan obat dengan
reseptornya (Batubara, 2008).

Pengertian Reseptor

Reseptor
merupakan komponen makromolekul sel (umumnya berupa protein) yang berinteraksi
dengan senyawa kimia endogen pembawa pesan (hormon, neurotransmiter, mediator
kimia dalam sistem imun, dan lain-lain) untuk menghasilkan respon seluler. Obat
bekerja dengan melibatkan diri dalam interaksi antara senyawa kimia endogen
dengan reseptor ini, baik menstimulasi (agonis) maupun mencegah interaksi
(antagonis).

Mekanisme kerja obat pada umumnya melalui interaksi
dengan reseptor pada sel organisme. Reseptor obat pada umumnya merupakan suatu
makromolekul fungsional yang pada umumnya juga bekerja sebagai suatu reseptor
fisiologis bagi ligan-ligan endogen (semisal: hormon dan neurotransmiter).
Interaksi obat dengan reseptor pada tubuh dapat mengubah kecepatan kegiatan
fisiologis, namun tidak dapat menimbulkan fungsi yang baru.

Terdapat bermacam-macam reseptor dalam tubuh kita,
misalnya reseptor hormon, faktor pertumbuhan, faktor transkripsi, neurotransmitter,
enzim metabolik dan regulator (seperti dihidrofolat  reduktase dan asetilkolinesterase).
Reseptor untuk obat pada umumnya merupakan reseptor yang berfungsi bagi ligan
endogen (hormon dan neurotransmitter).

Obat-obatan yang berinteraksi dengan reseptor
fisiologis dan melakukan efek regulator seperti sinyal endogen ini dinamakan agonis.
Ada obat yang juga berikatan dengan reseptor fisioloigs namun  tanpa
menghasilkan efek regulator dan menghambat kerja agonis (terjadi persaingan
untuk menduduki situs agonis) disebut dengan istilah antagonis, atau disebut
juga dengan bloker. Obat yang berikatan dengan reseptor dan hanya menimbulkan  
efek agonis sebagian tanpa memperdulikan jumlah dan konsentrasi substrat
disebut agonis parsial. Obat agonis-parsial bermanfaat untuk mengurangi efek
maksimal agonis penuh, oleh  karena itu disebut pula dengan istilah
antagonis parsial. Sebaliknya, obat yang menempel dengan reseptor fisiologik
dan justru menghasilkan efek berlawanan dengan agonis disebut agonis negatif.

Obat harus berintekasi dengan target aksi obat (salah
satunya adalah reseptor) untuk dapat menimbulkan efek. Interaksi obat dan
reseptor dapat membentuk komplek obat-reseptor yang merangsang timbulnya respon
biologis, baik respon antagonis maupun agonis. Mekanisme timbulnya respon
biologis dapat dijelaskan dengan teori obat reseptor.

Ada beberapa teori interaksi obat reseptor, antara
lain yaitu teori klasik, teori pendudukan, dan teori kecepatan.

1.    Teori Klasik

Ø Crum dan
Brown dan Fraser (1869
), mengaktakan bahwa aktivitas biologis suatu senyawa
merupakan fungsi dari struktur kimianya dan tempat obat berinteraksi pada
sistem biologis mempunyai sifat karakteristik.

Ø Langley (1878),
dalam studi efek antagonis dari atropin dan pilokarpin, memperkenalkan konsep
reseptor yang pertama kali, kemudian dikembangkan oleh Ehrlich.

Ø Ehrlich (1907),
memperkenalkan istilah reseptor dan membuat konsep sederhana tentang interaksi
obat reseptor  yaitu corpora non agunt nisi fixate atau obat tidak
dapat menimbulkan efek tanpa mengikat reseptor. Reseptor biologis timbul bila
ada interaksi antara tempat dan struktur dalam tubuh yang karakteristik atau
sisi reseptor, dengan molekul asing yang sesuai atau obat, yang satu sama yang
lainnya merupakan stuktur yang saling mengisi.Reseptor obat digambarkan seperti
permukaan logam yang halus dan mirip dengan struktur molekul obat.

2.    Teori
Pendudukan

Ø Clark (1926)
memperkirakan bahwa satu molekul obat akan menempati sati sisi reseptor dan
obat harus  diberikan dalam jumlah yang berlebihan agar tetap efektif
selama proses pembentukan kompleks.

Besarnya efek biologis yang dihasilkan secara langsung
sesuai dengan jumlah reseptor khas yang diduduki molekul obat. Clark
hanya meninjau  dari segi agonis saja yang kemudian dilengkapi oleh Gaddum
(1937), yang meninjau dari sisi antagonis.

Jadi respons
biologis yang terjadi setelah pengikatan obat-reseptor dapat berupa :

1.
rangsangan aktivitas (efek agonis ).

2.
pengurangan aktivitas (efek antagonis ).

Ø Ariens (1954) dan Stephenson
(1959), memodifikasi dan membagi interaksi obat-reseptor menjadi dua tahap
yaitu :

1. Pembentukan komplek obat-reseptor

2. Menghasilkan respon biologis

Setiap struktur  molekul obat harus mengandung
bagian yang secara bebas  dapat menunjang afinitas interaksi obat reseptor
dan memiliki efisiensi untuk menimbulkan respon biologis sebagai akibat
pembentukan komplek.

3.    Teori
Kecepatan

Ø Croxatto dan Huidobro
(1956) memberikan postulat bahwa obat hanya efisien pada saat berinteraksi dengan
reseptor.

Ø Paton (1961)
mengatakan bahwa efek biologis obat setara dengan kecepatan kombinasi
obat-reseptor dan bukan jumlah reseptor yang didudukinya. Tipe kerja obat
ditentukan oleh kecepatan penggabungan (asosiasi) dan peruraian (disosiasi)
komplek obat-reseptor dan bukan dari pembentukan komplek obat-reseptor yang
stabil.

4.    Jenis-Jenis Reseptor

Baca Juga  beberapa contoh gambar geliga landak asli/original

v Jenis-jenis
reseptor (gambar 1) :

v  Reseptor
terhubung kanal ion.

v  Reseptor
terhubung enzim.

v  Reseptor
terkopling protein G.

v  Reseptor
reseptor nuklear.

v
Reseptor
Terkopling Protein G (GPCR)

GPCR,
disebut juga reseptor metabotropik, berada di sel membran dan responnya terjadi
dalam hitungan detik. GPCR mempunyai rantai polipeptida tunggal dengan 7 heliks
transmembran. Tranduksi sinyal terjadi dengan aktivasi bagian protein G yang
kemudian memodulasi/mengatur aktivitas enzim atau fungsi kanal.

Contoh
reseptor

Efek

Agonis

Antagonis

Histamin H1

Adrenoreseptor
B2

Muskarinik M2

Kontraksi otot
polos (IP3).

Berbagai efek
karena posforilasi protein

Relaksasi otot
polos

Penurunan
kekuatan

kontraksi
jantung

Pelambatan
Jantung

Histamin

Adrenalin

Salbutamol

Asetilkolin

Mepiramin

Propanolol

Atropin


v Reseptor Terhubung Kanal Ion

Reseptor
ini berada di membran sel, disebut juga reseptor ionotropik. Respon terjadi dalam
hitungan milidetik. Kanal merupakan bagian dari reseptor.

Contoh :
reseptor nikotinik, reseptor GABAA, reseptor ionotropik glutamat dan reseptor
5-HT3.

Ø
Reseptor
Nikotinik Asetilkolin

Reseptor
ini ditemukan di otot skeletal, ganglion sistem saraf simpatk dan parasimpatik,
neuron sistem saraf pusat, dan sel non neural. Mekanisme kerja reseptor ini
ditunjukkan pada gambar 3.

Reseptor
ini terdiri dari 5 subunit (yaitu subunit α1, β1, γ atau ε, dan δ), yang
melintasi membran, membentuk kanal polar (gambar 4a). Masing-masing sub unit
terdiri dari 4 segmen transmembran, segmen ke-2 (M2) membentuk kanal ion
(gambar 4b). Domain N-terminal ekstraseluler masing-masing sub unit mengandung
2 residu sistein yang dipisahkan oleh 13 asam amino membentuk ikatan disulfida
yang membentuk loop, merupakan binding site untuk agonis (gambar 4c).

Reseptor
Terhubung Transkripsi Gen

Reseptor
terhubung transkripsi gen disebut juga reseptor nuklear (walaupun beberapa ada
di sitosol, merupakan reseptor sitosolik yang kemudian bermigrasi ke nukleus
setelah berikatan dengan ligand, seperti reseptor glukokortikoid). Contoh :
reseptor kortikosteroid, reseptor estrogen dan progestogen, reseptor vitamin D.

Reseptor
Terhubung Enzim

Reseptor
terhubung enzim merupakan protein transmembran dengan bagian besar
ekstraseluler mengandung binding site untuk ligan (contoh : faktor pertumbuhan,
sitokin) dan bagian intraseluler mempunyai aktivitas enzim (biasanya aktivitas
tirosin kinase). Aktivasi menginisiasi jalur intraseluler yang melibatkan
tranduser sitosolik dan nuklear, bahkan transkripsi gen. Reseptor sitokin
mengaktifkan Jak kinase, yang pada gilirannya mengaktifkan faktor transkripsi
Stat, yang kemudian mengaktifkan transkripsi gen.

Reseptor
faktor pertumbuhan terdiri dari 2 reseptor, masing-masing dengan satu sisi

pengikatan untuk
ligan. Agonis berikatan pada 2 reseptor menghasilkan kopling (dimerisasi).
Tirosin kinase dalam masing-masing reseptor saling memposforilasi satu sama
lain. Protein penerima (adapter) yang mengandung gugus –SH berikatan pada
residu terposforilasi dan mengaktifkan tiga jalur kinase. Kinase 3
memposforilasi berbagai faktor transkripsi, kemudian mengaktifkan transkripsi
gen untuk proliferasi dan diferensiasi.

Fungsi Reseptor

Fungsi
reseptor adalah :

1)      Merangsang perubahan permeabilitas
membran sel.

2)      Pembentukan pembawa kedua ( secon
messenger) misalnya cAMP, diasilgliserol, inositol trifosfat.

3)      Mempengaruhi transkripsi gen atau
DNA.

Dari fungsi tersebut, reseptor terlibat dalam
komunikasi antar sel. Reseptor menerima rangsang dengan berikatan dengan
pembawa pesan pertama (first messenger) yaitu agonis yang kemudian menyampaikan
informasi yang diterima kedalam sel dengan langsung menimbulkan efek seluler
melalui perubahan petmeabilitas membran, pembentukan pembawa pesan kedua atau
mempengaruhi  transkripsi gen.

2.2.
Interaksi Obat Dengan Reseptor

Ligan
seperti hormon atau neurotransmiter ibarat sebuah anak kunci yang berikatan
pada reseptor spesifik (yang berperan sebagai lubang kunci). Interaksi ini
membuka respon sel. Obat mirip ligan, bila berinteraksi dengan resesptor
memberikan respon yang sama dengan ligan, merupakan agonis sehingga bisa
membuka kunci. Obat lain yang bekerja berlawanan disebut antagonis.

Skala dosis
aritmetik verus skala log dosis

Ø
Skala
dosis aritmetik :

Laju
perubahan efek cepat pada awal dan melambat pada peningkatan dosis. Saat
peningkatan dosis tidak lagi mengubah efek, dicapai efek maksimal. Sulit untuk
dianalisis secara matematis pada kurva dosis aritmetik.

Ø
Skala
Log Dosis :

Kurva logaritmik
mengubah kurva hiperbolik menjadi sigmoid (mendekati garis lurus). Hal ini
lebih menguntungkan dibanding skala dosis, karena proporsi dosis setara dengan
efek sehingga mudah dianalisis secara matematis.

v
Potensi

Potensi
merupakan posisi relatif kurva dosis-efek pada sumbu dosis. Namun signifikansi
secara klinis kecil, karena obat yang lebih poten belum tentu lebih baik secara
klinis. Obat berpotensi rendah tidak menguntungkan hanya jika menyebabkan dosis
terlalu besar sehingga sukar diberikan.

Contoh
: potensi relatif antara berbagai analgesik. Jika hanya dibutuhkan respon
analgesik rendah, pemberian aspirin dengan dosis 500 mg masih bisa menjadi
pilihan dari pada golongan narkotik. Namun jika dibutuhkan efek analgesik kuat,
dipilih golongan narkotik.

Agonis Pada Obat

Agonis
adalah sebuah obat yang memiliki afinitas terhadap reseptor tertentu dan
menyebabkan perubahan dalam reseptor yang menghasilkan efek diamati. Agonis
lebih lanjut dicirikan sebagai agonis penuh, menghasilkan respon maksimal dengan
menempati seluruh atau sebagian kecil dari reseptor, atau agonis parsial,
menghasilkan kurang dari respon maksimal bahkan ketika obat tersebut menempati
seluruh reseptor. Afinitas menjelaskan kecenderungan untuk menggabungkan obat
dengan jenis tertentu dari reseptor, sedangkan aktivitas efficary atau
intrinsik suatu obat mengacu pada efek maksimal obat dapat menghasilkan. Sebuah
agonis parsial memiliki aktivitas kurang intrinsik dari agonis penuh. Potensi
adalah istilah yang sering disalahpahami ketika membandingkan dua atau lebih
obat yang menimbulkan efek beberapa diamati. Potensi obat mengacu pada dosis
yang harus diberikan untuk menghasilkan efek tertentu intensitas yang
diberikan. Potensi dipengaruhi oleh afinitas obat untuk obat itu adalah reseptor
situs dan oleh proses-proses farmakokinetik yang menentukan konsentrasi obat di
sekitar langsung dari situs kerjanya (biophase). Potensi obat berbanding
terbalik dengan dosis; makin rendah dosis yang diperlukan untuk menghasilkan
respon lain, semakin kuat obat. Potensi adalah relatif, dan bukan merupakan
ekspresi, mutlak aktivitas obat. Untuk penentuan potensi standar harus
didefinisikan, dan perbandingan potensi hanya berlaku untuk obat yang
menghasilkan respon dinyatakan dengan mekanisme yang sama tindakan. Potensi
suatu obat tidak necessarity berkorelasi dengan keberhasilan atau keselamatan,
dan obat yang paling ampuh dalam seri klinis tidak selalu superior. rendah
adalah potensi kerugian hanya jika dosis efektif adalah begitu besar sehingga
terlalu mahal untuk memproduksi atau terlalu rumit untuk dijalankan.

Ada 2 tipe
agonis :

– Agonis penuh,
adalah agonis dengan efikasi maksimal.

– Agonis
Parsial, adalah agonis dengan efikasi kurang maksimal.

Antagonis Pada Obat

Antagonis
adalah obat yang menduduki reseptor yang sama tetapi tidak mampu secara
intrinsik menimbulkan efek farmakoligik sehingga menghambat karja suatu agonis.
Antagonis dibedakan menjadi 2 yaitu :


• Antagonisme fisiologi, yaitu antagonisme pada sistem fisiologi yang sama
tetapi pada sistem reseptor yang berlainan. Misalnya, efek histamin dan
autakoid lainnya yang dilepaskan tubuh sewaktu terjadi syok anafilaktik dapat
diantagonisasi dengan pemberian adrenalin.
• Antagonisme pada reseptor, yaitu antagonisme malalui sistem reseptor yang
sama (antagonisme antara agonis dengan antagonismenya). Misalnya, efek histamin
yang dilepaskan dalam reaksi alergi dapat dicegah dengan pemberian antihistamin
yang menduduki reseptor yang sama.

                                             
Antagonisme pada reseptor dapat bersifat kompetitif dan nonkompetitif :

·      Antagonisme
kompetitif : antagonis mengikat reseptor di tempat ikatan agonis (receptor site
atau active site) secara reversibel sehingga dapat digeser aloh agonis kadar
tinggi. Hambatan kadar agonis dapat diatasi dengan meningkatkan kadar agonis
sampai akhir dicapai efek maksimal yang sama.

·      Antagonisme
nonkompetitif : hambatan efek agonis oleh antagonis nonkompetitif tidak dapat
diatasi dengan meningkatkan kadar agonis. Akibatnya, efek maksimal yang dicapai
akan berkurang, tetapiafinitas agonis terhadap reseptornya tidak berubah.

v Antagonisme
nonkompetitif terjadi jika :

1.      Antagonis
mengikat reseptor secara ireversibel, di receptor site maupun di tempat lain
sehingga menghalangi ikatan agonis dengan reseptornya. Efek maksimal akan
berkurang tetapi afinitas agonis terhadap reseptor yang bebas tidak berubah.
Contoh: fenoksibenzamin mengikat reseptor adrenergik α di receptor site secara
ireversibel.

2.       Antagonis mengikat bukan pada molekulnya
sendiri tapi pada komponen lain dalam sistem reseptor, yakni pada molekul lain
yang meneruskan fungsi reseptor dalam sel terget, misalnya molekul enzim
adenilat siklase atau molekul protein yang membentuk kanal ion.

Ikatan
antagonis pada molekul-molekul tersebut, secara reversibel maupun ireversibel
akan mengurangi efek yang dapat ditimbulkan oleh kompleks agonis-reseptor tanpa
mengganggu ikatan agonis dengan molekul reseptornya (afinitas agonis terhadap
reseptornya tidak berubah).

 

Baca Juga  Gejala Kanker Prostat dan Beberapa Hal yang Perlu Anda Ketahui

Ø
Efektivitas,
Toksisitas, Letalitas

Ø  ED50
– Dosis efektif tengah; dosis dimana 50% populasi/sampel menunjukkan efek (dari
kurva DR kuantal).

Ø  TD50
– Dosis toksis tengah – dosis dimana 50% populasi menunjukkan efek toksik.

Ø  LD50
– Dosis letal tengah – dosis yang membunuh 50% subjek.

Ø
Kuantifikasi
Keamanan Obat

 

Semakin
tinggi indeks terapi (IT) maka akan semakin baik. IT bervariasi dari 1,0
(beberapa obat kanker) hingga >1000 (penicillin). Obat yang bekerja pada reseptor
atau enzim yang sama sering mempunyai nilai IT yang sama.

 Penulis :

RIDZKY M. HARIS

(Mahasiswa Kimia UMRI) 

DAFTAR PUSTAKA

Ansel,
C. Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. UI Press.

Brody,
T. M., Larner, J. and Minneman, K. P. (Eds.). 1998. Human Pharmacology :
Molecular to Clinical.
3th ed. Mosby Inc. St. Louis, Missouri.

Camille
Georges Wermuth (Ed.), 2008. The
Practice of Medicinal Chemistry.
Elsevier : London. pp. 99.

Foreman,
J. C. and Johansen, T. Eds. 1996. Textbook
of Receptor Pharmacology
. CRC Press : USA.

Korolkovas,
A. 1970. Essentials of Molecular
Pharmacology : Background for Drug Design
. Wiley-Interscience. New York.

Terry
Kenakin. 1996. Molecular
Pharmacology : A Short Course
.
Blackwell Sience Ltd : England.

Ulrik
Gether & Brian K. Kobilka . Minireview
: G Protein-coupled Receptors.
J. Bio Chem Vol. 273. No.
29-1998. pp. 17079.

Undang-undang
Bidang Kesehatan dan Farmasi. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Zullies
Ikawati. 2008. Farmakologi Molekuler.
Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.

Post Disclaimer

The information contained in this post is for general information purposes only. The information is provided by Obat Kanker? : Interaksi Obat Dengan Reseptor and while we endeavour to keep the information up to date and correct, we make no representations or warranties of any kind, express or implied, about the completeness, accuracy, reliability, suitability or availability with respect to the website or the information, products, services, or related graphics contained on the post for any purpose. for purchase information contact at Whatsapp Number 6281360000123 - Batu Geliga Landak

Default image
Dunny Nasution
Articles: 705

Leave a Reply

error: Content is protected !!