Vitamin A, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Sumplemen, Makanan

(Ambang batas pada tabel di atas adalah untuk retinol sintetis dan alami berbentuk ester dari vitamin A. bentuk karoten yang bersumber dari makanan tidak beracun. [18] [19])

Menurut Institute of Medicine of the National Academies, “RDA ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan dari hampir semua (97-98%) individu dalam suatu kelompok. Untuk bayi sehat yang disusui, nilai AI adalah asupan rata-rata. Sedangkan AI untuk kelompok lainnya diyakini dapat menutupi kebutuhan semua individu dalam kelompok, namun kurangnya data mencegah untuk dapat meyakinkan jumlah persentase individu yang tercakup oleh asupan ini. “[20]

4. Makanan Sumber-Sumber Vitamin A

Vitamin A ditemukan secara alami pada berbagai jenis makanan :

  • minyak hati ikan cod (30000 μg)
  • hati (kalkun) (8058 μg)
  • hati (sapi, ikan) (6500 μg 722%)
  • hati (chicken) (3296 μg)
  • dandelion (5588 IU 112%)[21]
  • wortel (835 μg 93%)
  • daun brokoli (800 μg 89%) – berdasarkan database dari USDA database bunga brokoli mengandung lebih sedikit vitamin A.[22]
  • ubi jalar (709 μg 79%)
  • mentega (684 μg 76%)
  • kubis (681 μg 76%)
  • bayam (469 μg 52%)
  • labu (400 μg 41%)
  • daun collard (333 μg 37%)
  • keju cheddar (265 μg 29%)
  • melon (169 μg 19%)
  • telur (140 μg 16%)
  • aprikot (96 μg 11%)
  • pepaya (55 μg 6%)
  • mangga (38 μg 4%)
  • kacang (38 μg 4%)
  • brokoli (31 μg 3%)
  • susu (28 μg 3%)
  • tomat
  • rumput laut

Catatan: Data yang diambil dari basis data USDA yang berada di dalam kurung adalah retinol activity equivalences (Raes) dan persentase RDA pada laki-laki dewasa, per 100 gram dari bahan makanan (rata-rata). Konversi karoten ke retinol bervariasi bagi tiap individu dan ketersediaan karoten secara alami pada makanan bervariasi. [23][24]

5. Manfaat Vitamin A

5.1. Fungsi Metabolik vitamin A

Vitamin A memiliki banyak fungsi dan peranan bagi tubuh, dia antaranya adalah :

a. Penglihatan

b. Transkripsi gen

c. Perkembangan dan reproduksi embrionik

d. Metabolisme tulang

e. Haematopoiesis

f. Aktivitas antioksidan

5.2. Peran Vitamin A untuk Penglihatan

Peran vitamin A untuk penglihatan sangat berhubungan dengan bentuk dari retinol. Pada mata, 11-cis retinal menempel pada protein yang disebut “opsin” untuk kemudian membentuk rhodopsin pada batang mata dan iodopsin (cones) pada residu lysine yang ada di mata. Pada saat cahaya mengenai mata, 11-cis retinal terisomerasi menjadi bentuk “–trans”. Retinal yang berbentuk “–trans” ini kemudian terpisah dari opsin melalui serangkaian tahapan yang disebut photo-bleaching. Proses isomerasi ini menginduksi sinyal syaraf di sepanjang syaraf penglihatan menuju pusat penglihatan yang ada di otak. Setelah terpisah dengan opsin, retinal yang berbentuk “–trans” tadi kemudian di “daur ulang” kembali menjadi bentuk 11-cis retinal oleh serangkaian reaksi enzimatik. Beberapa bentuk retinal “–trans” dapat dikonversi menjadi bentuk retinol “–trans” dan ditransfer menggunakan interphotoreceptor retinol-binding protein (IRBP) menuju ke sel epitel pigmen. Proses eseterifikasi lebih lanjut menjadi ester retinil “-trans” memungkinkan penyimpanan retinol “-trans” di dalam sel epitel pigmen dapat digunakan kembali ketika dibutuhkan. [26] Tahap terakhir adalah konversi dari 11-cis retinal akan menempel/terikat kembali pada opsin untuk kembali membentuk rhosdopsin (visual purple) pada retina. Rhodopsin diperlukan untuk dapat melihat pada intensitas cahaya rendah dan pada saat malam. Kuhne, menunjukkan bahwa, regenerasi dari rhodopsin hanya terjadi pada saat retina menempel pada retinal pigmented epithelial (RPE). [25] Dari proses yang sudah dijabarkan, dapat diambil kesimpulan bahwa, kekurangan vitamin A akan menghambat pembentukan rhodopsin dan dapat mengakibatkan salah satu gejala penyakit berupa rabun senja / rabun ayam. [27]

5.3. Peran Vitamin A untuk Transkripsi Gen

Vitamin A di dalam bentuk asam retinoat, memainkan peran penting dalam transkripsi gen. Setelah retinol telah diambil oleh sel, retinol tersebut dapat dioksidasi menjadi retina (retinaldehid) oleh enzim retinol dehydrogenase dan kemudian retinaldehid dapat dioksidasi menjadi asam retinoat oleh enzim retinaldehid dehydrogenase. [28] Konversi retinaldehid menjadi asam retinoat merupakan langkah yang irreversibel, hal ini berarti bahwa produksi asam retinoat diatur secara ketat, karena sehubungan dengan aktivitasnya sebagai ligan untuk reseptor inti sel. [26] Bentuk fisiologis dari asam retinoat (asam -trans-retinoat) mengatur transkripsi gen dengan mengikat reseptor inti sel yang dikenal sebagai reseptor asam retinoat (RAR) yang terikat pada DNA sebagai heterodimer dengan retinoid “X” reseptor (RXR).  RAR dan RXR harus di dimerisasi sebelum dapat terikat pada DNA. RAR akan membentuk sebuah heterodimer dengan RXR (RAR-RXR), tetapi tidak mudah membentuk suatu homodimer (RAR-RAR). RXR, di sisi lain, dapat membentuk suatu homodimer (RXR-RXR) dan akan membentuk heterodimer dengan banyak reseptor inti sel lainnya, termasuk hormon tiroid reseptor (RXR-TR); Vitamin D3 reseptor (RXR-VDR); peroxisome proliferator-activated reseptor (PPAR-RXR) dan liver “X” reseptor (RXR-LXR). [29] Heterodimer RAR – RXR mengenali elemen respon asam retinoat (Rares) pada DNA sedangkan homodimer RXR – RXR mengenali retinoid ” X ” elemen respon ( RXREs ) pada DNA. Meskipun beberapa Rares yang dekat dengan gen target telah menunjukkan kemampuan untuk mengontrol proses fisiologis, [28] namun hal ini belum diketahui pada RXREs. Heterodimer dari RXR dengan reseptor inti sel selain RAR (yaitu TR , VDR , PPAR , LXR) terikat pada berbagai elemen respon yang berbeda dari DNA untuk mengontrol proses yang tidak diregulasi oleh vitamin A. [26] Setelah penempelan asam retinoat pada komponen RAR dari RAR – RXR heterodimer, reseptor mengalami perubahan konformasi yang menyebabkan co- represor terpisah dari reseptor. Co-activators kemudian dapat mengikat reseptor kompleks, yang dapat membantu untuk melonggarkan struktur kromatin dari histon atau dapat berinteraksi dengan proses transkripsi. [29] Hal ini dapat meningkatkan (atau menurunkan) ekspresi gen target , termasuk gen Hox serta gen yang mengkode reseptor itu sendiri (misalnya, RAR-beta pada mamalia). [26] 

Baca Juga  Penanganan Limbah atau Sampah Di Rumah Sakit

5.4. Dermatologi 

Vitamin A, khususnya asam retinoat, memiliki kemampuan untuk menjaga kesehatan kulit normal dengan mengaktifkan gen dan mendiferensiasi keratinosit (sel kulit yang belum matang) menjadi sel epidermis dewasa.[30] Mekanisme pasti mengenai latar belakang digunakannya terapi retinoid sebagai agen farmakologis dalam pengobatan penyakit dermatologis masih terus diteliti. Pada pengobatan untuk jerawat, obat retinoid paling yang paling diresepkan adalah 13-cis retinoic acid (isotretinoin). Obat ini mengurangi ukuran dan sekresi kelenjar sebaceous. Isotretinoin akan mengurangi jumlah bakteri di dalam saluran dan permukaan kulit. Hal ini terjadi sebagai akibat dari pengurangan sebum (sumber nutrisi bagi bakteri). Isotretinoin mengurangi peradangan melalui penghambatan respon chemotactic dari monosit dan neutrofil.[26] Isotretinoin juga telah diketahui dapat memulai “renovasi” kelenjar sebasea; hal ini memicu perubahan pada ekspresi gen yang secara selektif menginduksi apoptosis. [31] Isotretinoin merupakan teratogen (agen yang memiliki potensi menciptakan kelainan perkembangan fisiologis) dengan sejumlah potensi efek samping, oleh karena itu penggunaannya membutuhkan pengawasan medis.

5.5. Retina / Retinol vs Asam Retinoat 

Tikus yang kehilangan/kekurangan vitamin A dapat memiliki kondisi kesehatan yang baik dengan suplementasi asam retinoat. Hal ini membalikkan efek terhambatnya pertumbuhan akibat kekurangan vitamin A, serta tahap awal xerophthalmia. Namun, tikus tersebut menunjukkan infertilitas (baik laki-laki dan perempuan) dan terus menerus mengalami degenerasi pada retina. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi-fungsi ini membutuhkan retina atau retinol, yang bersifat intraconvertable dimana hal tersebut tidak dapat dipulihkan kembali hanya dengan menggunakan asam retinoat yang teroksidasi. Kebutuhan retinol untuk menyembuhkan reproduksi pada tikus yang kekurangan vitamin A dapat diketahui karena vitamin A dibutuhkan sebagai persyaratan untuk sintesis lokal asam retinoat dari retinol pada testis dan embrio [32] [33].

6. Defisiensi / Kekurangan Vitamin A

Kekurangan vitamin A diperkirakan terjadi pada sekitar sepertiga dari anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia. [34] Hal ini diperkirakan telah merenggut kehidupan dari 670.000 balita per tahun. [35] Sekitar 250.000-500.000 anak di negara berkembang menjadi buta setiap tahunnya karena kekurangan vitamin A, dengan prevalensi tertinggi terjadi di Asia Tenggara dan Afrika. [36]

Kekurangan vitamin A dapat terjadi baik secara primer maupun sekunder. Kekurangan vitamin A primer terjadi di antara anak-anak dan orang dewasa yang tidak mengkonsumsi asupan karotenoid provitamin A pada jumlah yang cukup dari buah-buahan dan sayuran serta vitamin A dari hewan dan produk susu. Penyapihan ASI yang terlalu awal juga dapat meningkatkan risiko kekurangan vitamin A.

Defisiensi vitamin A sekunder dikaitkan dengan malabsorpsi kronis lipid/lemak, gangguan metabolism empedu, dan paparan kronis terhadapa oksidan (radikal bebas), seperti asap rokok dan kecanduan alkohol kronis. Vitamin A adalah vitamin larut lemak dan tergantung pada solubilitas miselar untuk terdispersi ke dalam usus kecil, oleh karena itu aktivitas vitamin A akan sangat rendah bila melakukan diet rendah lemak. Defisiensi zinc juga dapat mengganggu penyerapan, transportasi, dan metabolisme vitamin A karena senyawa ini digunakan pada sintesis protein pembawa vitamin A dan sebagai kofaktor proses konversi retinol menuju retina. Pada populasi yang kekurangan gizi, asupan vitamin A dan zinc yang rendah meningkatkan tingkat keparahan defisiensi vitamin A sehingga mengarah pada gejala-gejala fisiologis akibat defisensi. [26] Sebuah studi di Burkina Faso menunjukkan penurunan morbiditas malaria yang signifikan dengan memberikan anak-anak suplementasi gabungan antara vitamin A dan zinc. [37]

Sehubungan dengan fungsi yang unik dari retina sebagai kromofor visual, salah satu manifestasi awal dan spesifik dari defisiensi vitamin A adalah gangguan penglihatan, terutama pada intensitas cahaya yang rendah (rabun senja) . Defisiensi yang terjadi secara terus menerus menimbulkan serangkaian perubahan, yang paling dahsyat terjadi pada mata. Beberapa perubahan okular lainnya disebut xerophthalmia. Hal yang terjadi pertama kali adalah terjadi kekeringan pada konjungtiva (xerosis), ketika lacrimalis normal dan mukus yang mensekresi epitel digantikan oleh epitel yang terkeratinasi. Hal ini diikuti dengan pembentukan serpihan keratin di dalam plak kecil yang berwarna buram (bintik Bitot) dan, pada akhirnya, terjadi erosi pada permukaan kornea yang kasar dengan terjadinya pelunakan dan kerusakan kornea (keratomalacia), sehingga menyebabkan kebutaan total. [38] Perubahan lainnya berupa; gangguan imunitas (peningkatan risiko infeksi telinga, infeksi saluran kemih, penyakit meningokokus), hiperkeratosis (benjolan putih pada folikel rambut), keratosis pilaris dan metaplasia skuamosa pada epitel yang melapisi saluran pernapasan atas dan kandung kemih yang berubah menjadi epitel yang terkeratinasi. Pada hubungannya dengan bidang kedokteran gigi, kekurangan vitamin A dapat menyebabkan enamel hipoplasia.

Baca Juga  Seberapa Besar Kutu Dapat Tumbuh?

Asupan yang cukup dan tidak berlebihan dari vitamin A, sangat penting bagi wanita hamil dan menyusui untuk perkembangan janin yang normal dan kualitas ASI yang baik. Kekurangan/defisiensi vitamin A tidak dapat dikompensasi/digantikan oleh suplementasi setelah melahirkan. [39][40] Kelebihan vitamin A, akibat suplementasi vitamin A dosis tinggi, dapat menyebabkan cacat lahir, sehingga tidak boleh melebihi nilai harian yang direkomendasikan. [28]

Gangguan metabolisme vitamin A yang terjadi akibat dari mengkonsumsi alkohol selama masa kehamilan, ditandai oleh teratogenik (perkembangan tidak normal dari sel selama kehamilan yang menyebabkan kerusakan pada embrio) yang hampir sama dengan ibu hamil yang mengalami defisiensi vitamin A. [41]

7. Suplementasi Vitamin A

Upaya global yang dilakukan untuk mendukung pemerintah nasional dalam mengatasi kekurangan vitamin A dipimpin oleh Global Alliance for Vitamin A (GAVA), yang merupakan sebuah kerjasama informal antara A2Z, Canadian International Development Agency, Helen Keller International, the Micronutrient Initiative, UNICEF, USAID, and the World Bank. Kegiatan dari GAVA dikoordinasikan oleh lembaga Micronutrient Initiative.

Pada saat penggunaan beberapa strategi untuk mendapatkan asupan vitamin A melalui kombinasi ASI dan asupan makanan, penggunaan suplemen dosis tinggi secara oral tetap menjadi strategi utama untuk meminimalkan kekurangan vitamin A. [42] Sebuah meta-analisis dari 43 penelitian menunjukkan bahwa, suplementasi vitamin A bagi anak-anak di bawah umur lima tahun yang beresiko mengalami defisiensi vitamin A dapat mengurangi persentase kematian hingga 24%. [43] Sekitar 75% dari vitamin A yang dibutuhkan untuk kegiatan suplementasi di negara-negara berkembang disuplai oleh Micronutrient Initiative dengan dukungan dari Canadian International Development Agency. [44] Pendekatan berupa fortifikasi pangan menjadi semakin meningkat, [45] tetapi tingkat cakupannya belum dapat dipastikan. [42]

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa suplementasi vitamin A telah mencegah 1,25 juta kematian akibat kekurangan vitamin A di 40 negara sejak tahun 1998. [46] Pada tahun 2008 diperkirakan bahwa investasi tahunan sebesar US $ 60 juta pada kombinasi vitamin A dan suplementasi zinc akan menghasilkan keuntungan lebih dari US $ 1 miliar per tahun, dimana setiap dolar yang dihabiskan menghasilkan keuntungan lebih dari US $ 17. [47] Upaya ini diberi peringkat oleh Konsensus Kopenhagen pada tahun 2008 sebagai pengembangan investasi terbaik di dunia. [47]

8. Toksisitas / Hypervitaminosis A (Kelebihan Vitamin A)

Oleh karena vitamin A larut dalam lemak, membuang segala kelebihan vitamin A yang terjadi akibat diet, memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan vitamin B dan vitamin C yang larut dalam air. Hal ini dapat menyebabkan tingkat toksiksitas dari vitamin A menumpuk.

Secara umum, toksisitas akut terjadi pada dosis 25.000 IU (International Units) / kg berat badan, dengan toksisitas kronis terjadi pada 4.000 IU / kg berat badan setiap harinya selama 6-15 bulan. [48] Namun, toksisitas pada hati dapat terjadi pada tingkat paling rendah sebesar 15.000 IU per hari hingga 1,4 juta IU per hari, dengan rata-rata dosis toksik harian 120.000 IU per hari, terutama dengan konsumsi alkohol yang berlebihan. Pada orang dengan penyakit gagal ginjal, nilai 4000 IU dapat menyebabkan kerusakan besar. Selain itu, asupan alkohol yang berlebihan dapat meningkatkan toksisitas. Anak-anak dapat mengalami keracunan pada 1.500 IU / kg berat badan. [49]

Konsumsi vitamin A yang berlebihan dapat menyebabkan rasa mual (nausea), iritabilitas, anoreksia (nafsu makan berkurang), muntah, penglihatan kabur, sakit kepala, kerontokan rambut, nyeri otot dan perut, mengantuk, dan perubahan status mental. Pada kasus seperti; rambut rontok, kulit kering, pengeringan selaput lendir, demam, insomnia, kelelahan, penurunan berat badan, patah tulang, anemia, dan diare, dapat dijadikan sebagai bukti dari gejala-gejala yang berhubungan dengan tingkat toksisitas yang tidak begitu serius.[50] beberapa gejala-gejala ini juga umum terjadi akibat pengobatan jerawat dengan menggunakan Isotretinoin. Dosis tinggi yang kronis dari vitamin A dan retinoid hasil sintesis seperti 13-cis asam retinoat, dapat mengakibatkan sindrom pseudotumor cerebri. [51] Gejala-gejala yang terjadi akibat sindrom ini adalah sakit kepala, kaburnya penglihatan dan kebingungan yang terkait dengan peningkatan tekanan intraserebral. Gejala-gejala tersebut dapat diatasi dengan menghentikan asupan zat dari senyawa yang terkait. [52]

Baca Juga  Apa itu Kanker Paru (Lung Cancer)

Asupan kronis sebesar 1500 RAE dari turunan vitamin A dapat berhubungan dengan osteoporosis dan patah tulang pinggul, karena dapat menekan proses pembentukan tulang sekaligus merangsang kerusakan tulang. [53].

Asupan vitamin A dalam dosis tinggi telah dikaitkan dengan patah tulang yang terjadi secara spontan pada hewan. Penelitian mengenai kultur sel telah menunjukkan hubungan antara peningkatan resorpsi tulang dan penurunan pembentukan tulang dengan asupan vitamin A yang tinggi. Interaksi ini dapat terjadi karena vitamin A dan D dapat bersaing sebagai reseptor yang sama dan kemudian berinteraksi dengan hormon paratiroid, yang mengatur kalsium. [49] Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Forsmo et al., menunjukkan korelasi antara kepadatan mineral tulang yang rendah dengan asupan vitamin A yang terlalu tinggi. [54]

Efek racun dari vitamin A telah terbukti secara signifikan mempengaruhi perkembangan janin. Dosis terapi yang digunakan untuk pengobatan jerawat telah terbukti mengganggu aktivitas sel saraf cephalic. Janin sangat sensitif terhadap keracunan vitamin A selama periode organogenesis. [26] Keracunan ini hanya terjadi akibat preformed / turunan (retinoid) vitamin A (misalnya yang bersumber dari hati). Bentuk karotenoid (seperti beta-karoten seperti yang ditemukan dalam wortel), tidak memberikan gejala tersebut, kecuali dengan suplemen dan kecanduan alkohol kronis. Namun asupan makanan yang mengandung beta-karoten berlebihan dapat menyebabkan carotenodermia, yang menyebabkan perubahan warna oranye-kuning pada kulit. [55][56][57]

Perokok dan pecandu alkohol kronis telah diamati memiliki peningkatan risiko kematian akibat kanker paru-paru, kanker kerongkongan, kanker gastrointestinal dan kanker usus besar. [41] Melalui sebuah penelitian, cedera pada hepatik (hati) telah ditemukan pada manusia dan hewan, di mana konsumsi alkohol dipasangkan dengan dosis tinggi vitamin A dan suplemen beta-karoten.

Para peneliti telah berhasil menciptakan bentuk vitamin A yang larut dalam air, yang dipercaya oleh mereka dapat mengurangi potensi toksisitas. [58] Namun, sebuah studi pada tahun 2003 menemukan bahwa vitamin A yang larut dalam air diperkirakan 10 kali lebih beracun dibandingkan dengan vitamin A yang larut dalam lemak. [59] Sebuah penelitian pada tahun 2006 menemukan bahwa, anak-anak yang diberi vitamin A dan D yang larut dalam air, menderita asma dua kali lebih banyak bila dibandingkan kelompok kontrol diberi vitamin A yang larut dalam lemak [60].

Pada beberapa penelitian, penggunaan suplemen vitamin A telah dikaitkan dengan peningkatan tingkat kematian, [61] tetapi hanya ada sedikit bukti untuk menunjukkan hal ini [62].

9. Penggunaan Vitamin A dan Turunannya di Bidang Medis

Retinil palmitat telah digunakan di dalam krim kulit, di mana senyawa tersebut dipecah menjadi retinol dan pura-pura dimetabolisme menjadi asam retinoat, yang memiliki aktivitas biologis yang kuat, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Retinoid (misalnya, 13-cis-asam retinoat) membentuk suatu kelas senyawa kimia yang secara kimiawi berkaitan dengan asam retinoat, dan digunakan dalam pengobatan untuk memodulasi fungsi gen. Seperti asam retinoat, senyawa terkait ini tidak memiliki aktivitas vitamin A secara keseluruhan, tetapi memiliki efek yang kuat pada ekspresi gen dan diferensiasi sel epitel [63].

Ilmu farmasi menggunakan mega dosis turunan asam retinoat alami yang digunakan untuk pengobatan kanker, HIV, dan tujuan dermatologis [64]. Pada dosis yang tinggi, efek samping yang dihasilkan mirip dengan keracunan vitamin A (hypervitaminosis A). Efek samping parah yang berhubungan dengan keracunan vitamin A, dan penggunaan pada kisaran optimal yang terbatas menjadi hambatan utama dalam mengembangkan turunan vitamin A untuk digunakan sebagai terapi.

Post Disclaimer

The information contained in this post is for general information purposes only. The information is provided by Vitamin A, Fungsi, Sumber, Manfaat, Kekurangan, Defisiensi, Efek Samping, Sumplemen, Makanan and while we endeavour to keep the information up to date and correct, we make no representations or warranties of any kind, express or implied, about the completeness, accuracy, reliability, suitability or availability with respect to the website or the information, products, services, or related graphics contained on the post for any purpose. for purchase information contact at Whatsapp Number 6281360000123 - Batu Geliga Landak

Default image
Dunny Nasution
Articles: 705

Leave a Reply

error: Content is protected !!